Rabu, 23 Maret 2011

Wawancara dengan Bos Mozilla Mitchell Baker

Sains & Teknologi
Wawancara dengan Bos Mozilla Mitchell Baker
"Tak mungkin bersaing dengan Google dan Microsoft."
Kamis, 30 September 2010, 16:32 WIB
Indra Darmawan
Mitchell Baker, Chairwoman Mozilla (VIVAnews/Tri Saputro)
BERITA TERKAIT

VIVAnews - Pekan ini Indonesia kedatangan tamu penting dari dunia internet. Dia adalah orang di balik browser atau peramban yang paling familiar bagi orang Indonesia.

Peramban ini dengan mudah kita jumpai di komputer-komputer rumahan, mungkin laptop Anda, hingga di komputer-komputer PC di warung internet (warnet), yakni Mozilla Firefox, browser kedua terbesar yang terus menggerogoti dominasi Micrsoft Internet Explorer di dunia peramban.

Ini bukan kali pertama, Mitchell Baker, Chairperson Mozilla Corporation sekaligus Mozilla Foundation, itu datang ke Indonesia. Tapi, kali ini kedatangannya ke Jakarta merupakan momentum yang sangat penting, mengingat Indonesia kini adalah negara pengguna Mozilla Firefox nomor satu di dunia.

Walau cuma sehari di Indonesia, ia terlihat antusias untuk bertemu dengan komunitas Mozilla di Indonesia, di BlitzMegaplex Pacific Place di Jakarta, Senin malam, 26 September lalu. Siangnya, tim VIVAnews sempat mewawancari wanita 53 tahun ini di Hotel Midplaza Intercontinental Jakarta.

Kepada Indra Darmawan dan Muhammad Chandrataruna ia berbicara banyak hal. Mulai dari keberhasilan Firefox memecahkan kontrol penuh Microsoft di dunia peramban, pemecahkan masalah inovasi di tubuh Mozilla, kompetisi dengan Google Chrome dan browser lain, konsep ponsel Seabird, hingga pandangannya mengenai browser masa depan. Berikut kutipannya:

VIVAnews: Mozilla saat ini merupakan browser yang paling populer di Indonesia. Apa yang kira-kira yang membuat orang Indonesia menyukai browser ini?
Mitchell Baker: Seharusnya Anda yang menjelaskan kepada saya (tertawa). Saya pikir ada tiga faktor. Yang pertama Mozilla dan Firefox merupakan wadah yang memiliki komunitas yang aktif, karena kami adalah organisasi non-profit yang berusaha untuk membangun internet yang lebih baik.

Kita tidak mencari pendapatan, tapi kami berusaha untuk membangun komunitas yang tertarik untuk mewujudkan internet yang bisa dipercaya, kompetitif, dan baik.

Dan ketika kami bertemu dengan orang-orang seperti Viking (Viking Karwur adalah Head of Mozilla Community di Indonesia - red), yang memiliki banyak resource dan energi, kami mencoba untuk mendukung mereka dan komunitasnya.

Jadi kami memiliki perbedaan dengan perusahaan komersiil yang mencari keuntungan, karena aktivitas kami didasari dengan kesamaan ketertarikan, energi, ini membuat kami bisa mewujudkan tujuan yang mungkin awalnya terasa mustahil.

Selain itu, kami juga memiliki komunitas yang aktif, dan komunitas ini sudah berdiri sejak awal-awal internet masuk ke Indonesia. Mereka banyak menyebarkan informasi dari mulut ke mulut (word of mouth) kepada para pengguna internet awal lainnya, jadi ini tak lepas dari peran komunitas lokal. Ini merupakan cara yang efektif bagi kami, karena kami pun sebenarnya tidak terlalu mengetahui pasar di sini.

Yang kedua adalah karena produk kami memang bagus. Karena browser kami sangat mudah untuk dikustomisasi (customizable). Indonesia adalah bahasa yang sangat penting bagi kami.

Dengan melakukan lokalisasi, penerjemahan bahasa, kami ingin pengguna menjadi seperti warga negara kelas satu di web. Kini kami telah mengapalkan begitu banyak bahasa, sekitar 72 bahasa, yang didukung oleh komunitas-komunitas lokal termasuk di Indonesia.

Apakah berarti Anda juga tertarik membuat versi dialek dari berbagai bahasa yang ada di Indonesia, seperti misalnya Google menyediakan bahasa Jawa pada mesin pencarinya?
Untuk bahasa tambahan, bahasa dialek, kami sekali lagi ingin agar orang-orang dari bahasa tersebut bisa bergabung untuk bekerja bersama kami dan mendukung untuk menyediakan versi bahasa mereka.

Jadi, bisa saja itu terjadi, saya akan kembali bertanya kepada Viking, apa rencana komunitas di sini, dan apa yang mungkin bisa dilakukan di sini. Kami sepertinya tidak akan melakukan apa yang dilakukan perusahaan lain seperti membuka kantor di sini, merekrut orang-orang untuk mengerjakannya secara tradisional.

Saya juga sangat tertarik untuk memperluas jangkauan komunitas lokal Mozilla di sini, dan meningkatkan interaksi mereka dengan produk kami. Itu mungkin yang bisa langsung kita lakukan daripada membuat berbagai macam dialek yang berbeda.

Jadi kami berharap komunitas Mozilla di sini akan lebih aktif dan akan lebih memberdayakan diri untuk membangun dan membuat perubahan pada internet.

Berapa banyak tepatnya jumlah pengguna browser Firefox di Indonesia?
Mitchell Baker: Jutaan. Jadi ada dua jenis pengguna Firefox di Indonesia, yakni yang menggunakan Firefox versi bahasa Inggris dan versi bahasa Indonesia.

Viking Karwur: Berdasarkan statistik terakhir yang kami terima, pengguna Firefox bahasa Inggris ada lebih dari 60 persen sementara pengguna versi Indonesia justru lebih sedikit. Ini unik, karena banyak pengguna asal Indonesia malah bingung bila menggunakan versi bahasa Indonesia.

Statistik pengguna browser Mozilla Firefox Indonesia

Pengguna Firefox Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Sekitar 65-75 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan Mozilla versi desktop. Bila dikombinasikan dengan data pengguna internet Indonesia versi APJII, berarti setidaknya 21 juta pengguna Firefox Indonesia, dari total 400 juta pengguna Firefox di seluruh dunia. Sekitar 80 persen pengguna Indonesia menggunakan Firefox versi Inggris dan hanya 16 persen yang menggunakan versi Bahasa Indonesia. Sementara itu tercatat ada sekitar 20 plugin Firefox hasil besutan pengembang asal Indonesia.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Apa yang membuat Anda merasa penting untuk hadir dalam pertemuan komunitas di sini?
Mitchell Baker: Saya ingin sedikit mengingat ke belakang. Apa yang sangat saya hargai dari Mozilla adalah kami membangun Firefox dengan sebuah software yang baik, dan kami selalu berusaha membuatnya agar pengguna bisa merasakan pengalaman internet yang lebih baik.

Tapi kami juga membangun mekanisme untuk mencapai beberapa tujuan lain. Salah satunya adalah bagaimana membangun internet menjadi tempat yang bisa dipercaya, aman, internasional. Tujuan lainnya adalah dengan membuat organisasi untuk orang-orang yang ingin memberikan sumbangsihnya kepada orang lain.

Memang tak ada salahnya untuk menikmati produk yang baik dan memakainya. Namun banyak di antara kita yang merasa tidak cukup hanya itu, dan ingin melakukan sesuatu hal yang berbeda, atau ingin memberikan pengaruh bagi orang lain, menentukan apa yang mungkin penting bagi orang lain.

Firefox dan Mozilla adalah tempat di mana orang-orang seperti ini dapat berkumpul, dan kami mencoba menyediakan mekanisme dukungan bagi orang-orang yang ingin menolong orang lain, kami memiliki struktur untuk melakukan hal itu. Dan ketika saya berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tersebut, adalah sesuatu hal yang sangat menyenangkan.

Memang menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang menyukai Firefox, namun akan lebih sangat menyenangkan lagi bertemu dengan orang-orang yang terlibat dalam pengembangannya. Di sana kami bisa saling berbagi.

Karena kami lembaga non-profit, dan kami adalah proyek open source, kami selalu saling berbagi mengenai hasil kerja kami, kami selalu menganggap bahwa Firefox adalah produk milik publik, sebagai bagian dari infrastruktur internet publik.

Chairman Mozilla Mitchell Baker

Mitchell Baker awalnya adalah karyawan Netscape, menjabat sebagai Associate General Counsel for Netscape Communications Corporation. Ia termasuk orang pertama yang terlibat dalam proyek Mozilla, sebuah proyek Netscape untuk membuka kode program browser Netscape Communicator 4.0 untuk di-open source-kan. Dialah yang merumuskan lisensi open source Mozilla Public License.

Ia menjabat sebagai Chief Lizard Wrangler (General Manager) pada Proyek Mozilla sejak 1999. Namun pada 2001 AOL mengakuisisi Netscape dan AOL memecatnya. Namun ia tetap meneruskan Proyek Mozilla sebagai seorang sukarelawan. Pada 2003, ia mendirikan dan menjadi President Mozilla Foundation, sebuah organisasi non-profit yang didedikasikan untuk keterbukaan dan inovasi Internet.

Sebagai tokoh yang selalu mengkampanyekan keterbukaan internet, dan bertanggung jawab memotivasi, mengorganisir karyawan maupun para sukarelawan yang mengembangkan Firefox sebagai proyek open source, ia terpilih sebagai salah satu tokoh Top 100 Scientists and Thinkers versi majalah TIME. Belum lama ini, itu juga menyabet penghargaan Growth, Innovation & Leadership (GIL) Award 2010, dari Frost & Sullivan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Anda terlibat dalam Mozilla sejak awal. Apakah Anda merasa perkembangan Mozilla sudah di jalur yang benar?
Sudah pasti. Saya bisa bilang bahwa pertama kali semua orang bilang bahwa Mozilla adalah proyek yang mustahil, tapi ternyata kami menang. Dan itu yang membawa kami menjadi seperti sekarang ini.

Bila Anda ingat sebelum adanya Firefox, hanya ada satu browser yang sangat memprihatinkan (Internet Explorer-red), browser yang sangat-sangat berbahaya dan memprihatinkan. Dengan 99 persen pangsa pasar, mereka tak melakukan pengembangan, stagnan.

Saat itu semua merasa bahwa itu tak akan bisa dirubah. Karena Microsoft memiliki kontrol yang sangat penuh, dengan distribusinya melalui Windows. Tapi kami bisa merubahnya! Sekarang semua tahu bahwa browser adalah alat yang menentukan.

400 juta orang (pengguna Firefox) memilih browser yang berbeda, khususnya di Indonesia. Indonesia jauh berada di atas semua negara manapun di dunia yang mengakui dan memilih browser yang baik untuk mereka.

Dulu tak ada yang percaya bahwa ini bisa terjadi. Kini orang-orang yang baru menggunakan internet, mereka memiliki begitu banyak opsi browser dan ini menawarkan kompetisi yang baik. Mozilla tidak akan berkata agar model lain seharusnya tidak ada.

Atau bila Anda hanya ingin menggunakan semua aplikasi yang berasal dari satu vendor saja, itu juga tak masalah. Tapi intinya musti ada beberapa pilihan.

Sekarang, pertanyaannya, kita punya banyak perangkat mobile, banyak di antara mereka tidak mengintegrasikan data, atau tidak memiliki pengalaman seperti halnya di desktop, informasinya juga tertutup hanya pada device tertentu, itu merupakan tantangan, dan saya ingin Mozilla harus menjawab tantangan itu.

Jadi itu adalah tantangan dari era baru. Saya pikir kami telah sukses pada langkah pertama, Untuk langkah kedua, ketiga, dan keempat, semua ada di depan kita.


Browser lain seperti Opera dan Chrome sudah lebih serius menggarap pasar Indonesia. Apa strategi Anda bersaing di Indonesia?
Pengguna Internet di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan dan akan terus berlangsung. Seiring dengan bertambahnya kemampuan berbagai device, bukan hal yang mengagetkan bila mungkin hal itu akan semakin membuat pertumbuhan internet di Indonesia lebih tinggi.

Untuk masalah kompetisi, sekali lagi, kami adalah perusahaan non-profit. Kompetisi adalah hal yang positif, ketika kami memulai Firefox, bagian dari tujuan eksplisit kami adalah menciptakan pilihan bagi inovasi yang akan menciptakan kompetisi.

Kami melihat bahwa pengakuan dari sebuah browser adalah penting, sebuah produk browser yang baik juga penting. Dan itu sudah menjadi keberhasilan bagi kami.

Mungkin kasusnya tak sama bila kami adalah perusahaan browser tipikal yang berusaha untuk menjaring pendapatan maksimal. Kami bukan seperti itu. Kami memandang kompetisi dengan Google sebagai hal yang positif dan akan lebih cepat memajukan web ke arah yang baik.

Apa rencana kami? Jawabannya kurang lebih sama dengan yang lain, yakni membuat produk browser sebaik-baiknya bagi orang-orang, yang memenuhi aspek-aspek dasar, kecepatan, keamanan. Dan juga, browser harus sangat fokus pada Anda, pengguna.

Browser adalah bagian dari internet yang Anda sentuh. Jadi tak cuma memberikan pengalaman internet yang menyenangkan bagi pengguna, tapi juga memberikan kontrol terhadap pengalaman internet tersebut.

Dan saya pikir kita akan melihat setiap browser memiliki perbedaan berdasarkan filosofi perusahaannya sendiri. Saya percaya bahwa Google Chrome adalah browser yang berusaha menggunakan ukuran (file -red) sekecil mungkin.

Saya kira memang ada kebutuhan untuk menyediakan opsi seperti ini. Namun yang menjadi pertanyaan, saat berinternet, Anda akan menjumpai begitu banyak situs web. Browser akan sangat menentukan apakah bakal mempermudah Anda, atau justru mempersulit Anda,

Sederhananya, kami akan menyediakan fitur-fitur baru yang akan membantu Anda untuk memegang kontrol dalam berinternet. Ini akan menjadi poin kuat kami, dan fitur-fitur baru yang akan membawa internet ke depan dan di antaranya akan bersaing dengan fitur-fitur di browser lain.Kami akan melanjutkan upaya-upaya komunitas.

Yang Anda musti tahu, bahwa tidak mungkin bagi siapapun, untuk bersaing dengan Microsoft dan Google dengan cara mereka. Cara mereka begitu 'besar-besaran'. Di sana ada sumber finansial, uang yang sangat besar, karyawan yang begitu banyak. Ada ribuan orang-orang pintar. Kemampuan untuk membuat kantor baru untuk pemasaran dan semacamnya.

Tentu saja kami tidak dalam skala itu. Organisasi non-profit tak akan memiliki finansial sebesar itu. Maka kami perlu bekerja dengan cara yang berbeda. Tujuan utama kami adalah terus fokus untuk membangun internet sebagai sumber daya global, namun yang mampu memenuhi kebutuhan lokal. Dan keterlibatan lokal juga sangat penting. Bahkan mungkin kami juga akan bekerja sama dengan kompetitor untuk membuat platform yang lebih baik.

Ke depan, saya pikir Firefox akan bekerja sama dengan lintas vendor. Mungkin mengerjakan sesuatu untuk Microsoft, untuk Google, atau mengerjakan sesuatu yang sosial seperti Facebook. Di mana semua orang bisa bergabung, tapi tidak mendorong Anda ke salah satunya saja, dan tetap memberikan pengguna kontrol penuh.


Bagaimana nasib browser versi mobile Anda?
Kami tengah mengembangkan versi mobile kami dengan nama kode pengembangan Fennec. Di pasar nanti akan tetap menggunakan nama Firefox for Mobile Devices. Versi pertamanya sudah ada di ponsel Nokia N900, dan sudah dikapalkan setahun lalu. Versi berikutnya yang kami keluarkan adalah aplikasi untuk iPhone (bukan full browser) untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

Langkah awal kami, tentunya adalah membuat browser yang baik di berbagai jenis platform yang kami bisa. Browser untuk Android juga akan segera tersedia versi developernya dalam beberapa bulan ke depan.

Versi ini baru tersedia untuk para pengembang, para penggemar teknologi, dan orang-orang yang menguji dan memperbaikinya. Belum akan tersedia bagi konsumen. Setelah itu kita akan melihat kemungkinan selanjutnya.

Tapi, kalau bicara platform lain seperti RIM Blackberry, Symbian, saya belum tahu, karena itu platform yang sama sekali berbeda. Dan kami akan melihat apakah kami memiliki sumber daya untuk menyediakannya atau tidak. Bila kami sudah memiliki versi mobile Firefox, kita akan mulai memikirkan bagaimana mereka bisa 'menyatu'.

Di antara kita memiliki laptop, desktop, ponsel yang memiliki koneksi internet. Dan semuanya semestinya memiliki satu macam pengalaman berinternet yang seragam dan menyenangkan. Selama ini hal itu belum bisa diwujudkan, dan kami akan berusaha mewujudkannya. Semua data yang ada di laptop semestinya juga bisa diakses lewar browser pada perangkat yang berbeda.

Apakah berarti Firefox juga akan menyediakan browser untuk berbagai perangkat seperti konsol game atau TV internet?
Saya tidak tahu apakah itu akan mungkin kita lakukan. Tapi yang jelas, saya pikir data yang ada di salah satu perangkat seseorang, semestinya tidak terkunci dalam perangkat itu.

Misalnya saya punya perangkat TV internet yang memiliki browser, harusnya data yang saya kumpulkan melalui browser itu juga bisa saya akses melalui perangkat lain seperi komputer laptop saya atau ponsel saya.

Tidak terpisah-pisah, karena bagian dari diri saya sendiri tidak terpisah-pisah. Bagaimanapun caranya, di manapun tempatnya, browser seharusnya bisa megintegrasikan informasi saya. Saya sendiri belum tahu dan belum bisa memastikan produk apa nantinya yang akan kami buat

Dalam sebuah kesempatan, salah seorang pendiri Mozilla, Ross Blake sempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap Firefox. Ia mengatakan tim Firefox pasif, kurang inovatif, dan tak tanggap dengan komplain pengguna terhadap performa browser Firefox. Bagaimana Anda melihat masalah ini?
Saya juga sempat membaca artikel mengenai itu. Tapi saya tidak yakin apakah saya membacanya secara keseluruhan. Pertama, mengenai masalah komplain pengguna. Kami memang telah mempelajari beberapa masalah dan banyak di antaranya sudah berhasil kami selesaikan, dan sedang kami jalankan.

Ada sekitar 400 juta orang menggunakan Firefox setiap hari. Kami merasa bahwa interaksi antara Firefox dengan produk lain (yang digunakan oleh berbagai situs web), menjadi sangat komplek. Tentunya masalah bukan berada di program kami.

Namun, pengujian adalah salah satu hal yang sulit. Banyak dari komplain yang kami terima biasanya komplain terhadap kemampuan browser menyajikan teknologi Flash. Mungkin mengganggu orang-orang yang biasa berkunjung ke situs YouTube, atau Facebook game yang menggunakan Flash.

Kami kini mengembangkannya dengan sistem pengujian. Pertama kali kita merilis browser, kita membuat pengujian tertarget terlebih dahulu di mana beberapa pengguna akan melihat apakah potongan program lain (di sebuah website) akan yang menyebabkan browser menjadi bermasalah atau tidak.

Oleh karenanya saat pengujian, kita akan melibatkan, misalnya, X pengguna game Farmville untuk mengetes apakah ada fitur-fitur bermasalah, atau bahkan kami bekerja sama dengan pembuat Farmville agar fiturnya bisa berjalan lancar di browser kami, dan semacamnya. Ini akan melibatkan banyak orang. Bahkan mungkin ratusan ribu orang.

Namun ada juga orang-orang yang mengeluh, ternyata mereka memiliki environment komputer yang kompleks dan sulit, atau menggunakan plugin-plugin, program ekstensi.

Tapi, pada Firefox versi 4, yang akan segera muncul beberapa bulan ke depan, saya yakin keluhan-keluhan itu akan dapat dikurangi dan diperbaiki secara dramatis. Dengan versi terbaru itu, nantinya berselancar di internet akan lebih kencang, interaksi antara program juga akan lebih baik, untuk menjawab berbagai komplain tadi.

Kemudian mengenai inovasi. Ada dua hal. Pertama, tak banyak orang yang bisa berinovasi secepat apa yang mereka inginkan. Kedua, adalah masalah eksperimen untuk menaruh sesuatu di Firefox. Anda harus sangat berhati-hati dengan Firefox, yang kini telah memiliki banyak pengguna.

Banyak di antara kami yang tertarik menerapkan hal-hal yang baru. Namun, bayangkan orang-orang yang sudah cukup nyaman dengan browser yang ada. Sesuatu yang baru justru bisa menjadi hal yang menakutkan bagi mereka.

Misalnya, menghilangkan menu-menu. Sepertinya itu justru akan membuat pengguna tidak merasa nyaman. Tentu saja, kita memang musti lebih berhati-hati dengan Chrome, yang mana sejumlah kecil orang kini mulai menggunakannya.

Bagi mereka (Google Chrome), memang lebih mudah untuk membuat hal-hal yang baru. Mereka memiliki lebih banyak kebebasan dan keleluasaan daripada kami, maju ke depan dengan memutus masa lalu.

Jadi, ada perasaan bahwa bahwa inovasi musti dilakukan secara hati-hati. Nah untuk itu kami memulai beberapa program, seperti Mozilla Lab, dan beberapa tempat lain untuk menguji dan bereksperimen pada hal-hal yang baru. Kami memiliki cara untuk membuat struktur inovasi, membangun program untuk menguji berbagai hal, dan bahkan menyatukan semuanya bersama-sama.


Baru-baru ini muncul sebuah konsep ponsel dari Mozilla Lab bernama Seabirds. Apakah konsep itu menandai bahwa Mozilla akan melakukan ekspansi dari sekadar pembuat software juga membuat hardware?Itu memang salah satu dari eksperimen kami di lab, itu yang saya tadi bilang mengenai inovasi. Jadi itu mungkin merupakan contoh sempurna dari inovasi. Tapi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Seabird ke depan.

Kami akan memikirkannya terlebih dahulu. Saya tidak tahu, adalah hal yang menarik untuk terbuka, dan mengundang orang-orang untuk terlibat terhadap hal -hal yang radikal, jadi kami akan melihatnya.



Seabird adalah sebuah konsep ponsel besutan Billy May, salah seorang anggota komunitas Mozilla, yang menggunakan berbagai teknologi masa depan. Ponsel ini menggunakan dua pico projector, yang bisa memancarkan papan kunci virtual di permukaan yang rata, dan memancarkan keluaran display ke layar yang lebih besar..

Sebuah sensor inframerah menyediakan sebuah trackpad virtual dan akan mendeteksi tombol-tombol apa saja yang diketik oleh pengguna pada papan ketik virtual. Ponsel berkamera 8 megapiksel ini juga menggunakan sistem pengecasan baterai nirkabel dan dongle bluetooth/ infra merah untuk melakukan pan atau zoom secara 3 dimensi.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Adakah kemungkinan konsep ini dibuat menjadi produk yang akan dipasarkan?
Saya belum tahu. Seabird ini cukup baru. Sejak seabird muncul, saya masih keliling melakukan perjalanan, jadi saya masih belum tahu konsep itu akan diapakan.

Agak sulit untuk mengkombinasikan antara software dan hardware dengan operator, namun ini memang sangat menarik.

Bagaimana Anda melihat browser masa depan?
Saya pikir kata browser sudah tua dan tidak lagi mencerminkan apa yang dilakukan oleh software. Menurut saya, apa yang kita sebut dengan browser adalah potongan dari software yang merepresentasikan saya.

Jadi ketika saya menggunakan aplikasi, dan aplikasi menyediakan informasi tentang saya, maka saya memiliki informasi itu. Sekarang yang terjadi adalah informasi tentang saya seringkali terpendam (siloed) dan tertutup pada perangkat tertentu. Memang seharusnya ada silo di internet, tapi silo itu mustinya saya sendiri.

Jadi saya pikir browser itu adalah representasi saya, avatar saya, Mungkin itu berarti browser akan mengerti saya, seperti misalnya suggestion bar pada mesin telusur. Saya pikir browser juga tempat untuk mengintegrasikan dan membantu saya mengatur semua kegiatan saya saat online.

Mungkin browser akan tetap berlanjut memiliki tombol-tombol maju atau mundur seperti saat ini. Tapi, ke depan kita punya beragam informasi di berbagai perangkat dan berinteraksi dengan berbagai situs web.

Bila browser tidak memberi tempat untuk fokus pada diri Anda, Anda mungkin akan tersesat. Anda akan terombang-ambing pada berbagai situs web, tapi tidak ada tempat bagi Anda untuk menyentuh semua potongan hidup Anda. Jadi seperti itulah seharusnya sebuah browser.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar